GAMBAR PRIBADIKU

GAMBAR PRIBADIKU
email : waransyah66@gmail.com

Jumat, 02 November 2012

BERTAMBAH LAGI DAFTAR ABS (ayah bejat sedunia)

Diperkosa Ayah Tiri, Bunga Warga Tuminting Depresi Berat


Fri, 02 November 2012 23:25 • Hits 33
Laporan Wartawan Tribun Manado David Manewus

MANADO-Bunga
(16) tak henti-hentinya meronta Jumat (2/11/2012).  Warga salah satu
kelurahan di Kecamatan Tuminting  berulangkali mengucapkan kata yang
tidak saling menyambung satu sama lain. Berulangkali pula perempuan yang
katanya hanya sampai kelas IV SD inimeludah setiap orang yang berada di
dekatnya.

Bunga memang mulai hidup dengan dunianya. Ia mulai
hidup dengan bawah sadarnya. Di duga, ia depresi berat atas perlakuan
ayah tirinya. Ia diduga telah diperkosa AI (52) berulang-ulang sejak
beberapa bulan yang lalu.

Perilaku tidak wajar Bunga membuat
polisi kesulitan membawanya  untuk divisum. Sempat dimuat ke bagian
depan mobil tahanan terbuka, kemudian dibawa ke bagian belakang akhirnya
Bunga
dibawa ke dalam mobil jenis sedan kecil. Ia diapit oleh ibu dan
bibinya. Ada kecemasan akan keselamatannya jika di bawa dengan mobil
tahanan terbuka.

Bunga terus-menerus berada dipelukan ibunya
ketika sampai di RS Bhayangkari. Bujukan dari ibunya yang kemudian
membuatnya bisa menjalani tes urin dan visum bagian vitalnya. Bahkan
dokter Nancy yang bertugas visum sempat diludahinya. Berulang kali pun
ia menangis. Bunga kemudian menjadi tenang ketika diberikan sebungkus
coklat di polresta Manado. "Mati jo ngana AI. Bunu jo padia. Gantong jo
pa dia,"kata Bunga seperti tersadar dari mimpinya.

Bunga memang
beberapa kali kembali ke dunia sadar. Ketika berada di rumah sakit ia
sempat menyebut namanya ketika ditanya oleh dokter. Ia juga sempat
membaca  tulisan "Buanglah Sampah Pada Tempatnya". Itupun dengan bahasa
tubuh yang tidak teratur lagi

Edelweis (40), bibi korban
mengatakan perilaku korban sudah mulai berubah Minggu (29/10)/2012.
Akan tetapi ia katanya sempat mengatakan perbuatan bejat Amran pada
satu anggota  keluarga. Keluarga belum percaya. Mereka jadi percaya
ketika kakaknya Bunga, Kembang juga mengaku diperlakukan tidak senonoh
oleh  tersangka beberapa tahun yang lalu. "Kembang mengaku dipegang alat
vitalnya oleh AI,"ujarnya

Kartini menduga korban depresi karena
perbuatan itu ditambah dengan ancaman. Ia pernah mendengar Sena dalam
perkataanya menyebutkan ia takut akan pisau. Karena pisau itu akan
dipakai untuk memotong  lehernya dan kemudian lehernya akan di buang ke
dalam WC.

Menurut pengakuan korban yang sempat ditangkap pihak
penyidik ia diperkosa pertama kali awal September. AI masuk ke kamarnya,
membuka bajunya dan langsung diperkosa. Amran mengancam Sena untuk
tidak mengatakan kepada siapapun. "AI itu suami kedua R, ibu korban. Ia
memang memelihara mereka sejak mereka umur sepuluh tahun. Ternyata ia
tega berbuat seperti
ini,"katanya

Dokter Nancy pun membenarkan bahwa hasil
pemeriksaan menunjukkan ia sudah diperkosa beberapa bulan yang lalu. Dan
perbuatan itu dilakukan secara berulang-ulang. AI ketika   ditanya
mengaku hanya melakukannya satu kali. Ia juga menolak dugaan pencabulan
kepada anaknya yang lain.

Kapolres Manado Amran Ampulembang melalui kasat reskrim Nanang  Nugroho ketika dikonfirmasi membenarkan laporan tersebut.

Lion Air Tergelincir di Supadio

Lion Air Tergelincir di Supadio

AP II: Lion Air Sempat Mengerem Panjang & Berputar 360 Derajat

Mega Putra Ratya - detikNews
Insiden Lion Air tahun 2010 di Supadio
Jakarta - Pesawat Lion Air JT 716 tujuan Jakarta-Pontianak tergelincir pada Kamis (1/11) malam di Bandara Supadio Pontianak, Kalimantan Barat sudah berhasil dievakuasi. Petugas Air Traffic Control (ATC) menyebutkan bahwa saat mendarat, roda pesawat yang mengangkut 166 penumpang itu tepat menyentuh touch down zone di Runway 33.

"Hasil pemantauan dari lokasi kejadian, ditemukan jejak pengereman panjang dari roda bagian kanan pesawat. Jejak tersebut sedianya akan dijadikan sebagai salah satu petunjuk untuk mengetahui mengapa pesawat bisa mengalami overrun dengan posisi berbalik arah 360 derajat," demikian disampaikan Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S Sunoko dalam rilisnya, Jumat (2/11/2012).

Posisi terakhir pesawat berada di atas tanah di sebelah kiri landasan pacu dengan roda depan dan kanan menancap pada tanah, serta roda kiri masih berada di atas aspal landasan pacu.

"Hingga saat ini, penyelidikan masih dilakukan oleh investigator dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengetahui penyebab pasti insiden ini. Untuk mempercepat evakuasi, saya telah mengutus petugas AP II dari kantor pusat maupun Bandara Soekarno-Hatta ke Pontianak dengan membawa peralatan,"jelas Tri.

Akibat kejadian tersebut, sejumlah bagian pesawat mengalami kerusakan, di antaranya mesin bagian kanan dan badan bagian bawah ekor pesawat yang diduga sempat menyentuh aspal landasan ketika berputar. Sementara proses evakuasi untuk mengeluarkan pesawat yang menancap di tanah masih dilakukan oleh pihak Lion Air yang bekerja sama dengan petugas Angkasa Pura II.

KEMANA PERGI PAJAK INI ANDA YANG MENILAI?

Kamis, 01 November 2012 11:17
TELANAIPURA – Piutang pajak Pemkot Jambi dari tangan pengusaha masih tinggi. Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI, terdapat Piutang Pajak Pemkot Jambi pada 2011 sebesar Rp 21 miliar yang belum tertagih. Akibatnya, potensi penerimaan Kota Jambi dari sektor pajak senilai Rp 21 miliar hilang.
Tunggakan pajak tersebut bersumber dari pajak reklame, hotel, restoran/rumah makan, parkir, dan pajak hiburan. Penyumbang tunggakan terbesar adalah Pajak Penerangan Jalan sebesar Rp 2 miliar, disusul pajak reklame Rp 1,5 miliar, pajak restoran Rp 779 juta, pajak hiburan Rp 265 juta, pajak hotel Rp 107 juta, pajak sewa tanah Rp 3,7 juta, dan piutang pajak galian golongan C Rp 17 juta. Ada juga Rp 4,7 miliar piutang pajak yang tidak dapat ditagih, dengan alasan wajib pajak, usaha mereka telah tutup.
Hal ini dikatakan Direktur Setnas FITRA Ucok Sky Khadafi, dalam seminar Pencegahan Korupsi Melalui Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik dan Pengelolaan APBD Kota Jambi, yang diinisiasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI di aula Rumah Dinas Wali Kota Jambi, kemarin (31/10).
Selain Ucok, tampil sebagai pembicara yaitu Arif Kuncoro dari KPK, Hayie Muhammad dari Indonesia Police Watch (IPW), dan Muhammad Khoirul Anwar, anggota Ombudsman RI. Ucok mengatakan, dengan tunggakan pajak yang tinggi dan selalu menjadi temuan BPK, ini membuktikan lemahnya kemampuan pengelolaan pajak di Kota Jambi. Menurutnya, ini menunjukkan lambannya tindakan dari pemerintah kota menyikapinya.
“Padahal, pajak merupakan salah sektor primadona PAD bagi kota Jambi, yang dapat mendukung kemajuan pembangunan kota,” katanya. Menurutnya, persoalan ini mesti ditangani serius pemerintah. Dinas yang memberikan izin usaha dengan Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota harus berkomunikasi, agar tidak terjadi piutang pajak di kemudian hari.
“Izin usaha hiburan yang dikelola oleh dinas terkait misalkan pariwisata, tak seharusnya dinas memberikan izin operasionalnya, jika perusahaan yang dulu belum membayar pajak,” katanya. Dinas Pendapatan juga  harus berkoordinasi dengan dinas yang mengeluarkan izin usaha.  Ia mengatakan, menumpuknya piutang pajak menunjukkan lemahnya sistem penagihan  dan penega­kan hukum. Akibatnya, wajib pajak seenaknya tidak membayar ke­wajiban. Salah satu pemicu piutang pa­jak membengkak adalah peme­rintah belum optimal menarik pa­jak jalan dan reklame. “Sebenarnya itu ti­dak perlu terjadi apabila ada ke­tega­san dari pemerintah,” katanya.
Ucok melanjutkan, penerimaan daerah dari sektor pajak rawan dikorupsi. Makanya, ia meminta semua pihak intens melakukan pengawasan. Ia mencontohkan, penerimaan pajak di tiga hotel bintang empat di Kota Jambi. Menurutnya, penerimaan pajak dari tiga hotel itu per harinya Rp 1 juta. “Dengan kondisi Jambi yang kian pesat dan pengunjung yang cukup besar, tidak mungkin penerimaan pajak dari hotel bintang empat cuma segitu. Saya tidak yakin. Ini pasti lebih dari itu,” ujarnya.
Sekda Kota Jambi Daru Pramono, mengakui masih banyak piutang pajak yang belum tertagih di tahun anggaran 2011. Ia hanya menjawab diplomatis, dengan berjanji di tahun 2012 akan diupayakan tidak ada lagi pajak yang belum tertagih. Menurutnya, dengan banyaknya tunggakan pajak yang belum tertagih, Pemkot selain akan menyampaikan surat pemberitahuan kepada DPRD juga akan meningkatkan kinerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk melakukan penagihan terhadap wajib pajak.
Dia berharap, hal tersebut dapat tercapai dengan baik tahun ini. “Pokoknya, secepat mungkin akan kita tagih,” katanya. Sementara, Fikri Aziz dari LSM Somasi, mengatakan adanya tunggakan pajak itu menunjukkan belum maksimalnya kinerja Pemkot Jambi. Untuk itu, lanjutnya, guna menagih wajib pajak yang sulit tertagih, ia mengusulkan agar pemkot melakukan kerja sama dengan kepolisian. “Jangan dengan pengusaha lembek tapi dengan masyarakat tegas. Gandeng aparat kalau perlu,” tegasnya.
Sementara itu, Wali Kota Jambi Bambang Priyanto, akan menindaklanjuti temuan tersebut terhadap SKPD bawahannya. “Apa yang jadi temuan KPK tadi akan segera kita tindak lanjuti dengan pengecekan langsung,” katanya.
 

PENGADILAN RAKYAT KECIL: UNTUK DISEBAR LUASKAN ADAKAH HATI NURANI KITA

PENGADILAN RAKYAT KECIL: UNTUK DISEBAR LUASKAN ADAKAH HATI NURANI KITA: selamat siang INDONESIA berita di media simpang siur, saya copy paste berita yg bersumber dari lampung sendiri, kebenaran berita ini aku...

UNTUK DISEBAR LUASKAN ADAKAH HATI NURANI KITA

selamat siang INDONESIA
berita di media simpang siur, saya copy paste berita yg bersumber dari lampung sendiri, kebenaran berita ini akurat, kalau masih sangsi ....silahkan di hubungi emailnya langsung.

down load ini saya lakukan semata rasa prihatin saya terhadap pemberitaan yg gak seimbang dan merugikan bagi saya pribadi dan masyarakat umum. bayangkan media massa yg memberitakannya ternyata isinya salah, apa akibatnya.....

silahkan disimak.

rgds
msm

From: Nsr Law Office [mailto:nsrlaw@yahoo.co.id]
Sent: Thursday, November 01, 2012 4:29 PM
To: nyoman.suparta;sudarmada; putra
Subject: BERITA DUKA

Om Swastyastu,
Om swargantu, moksantu, sunyattu, murcantu. Om ksama sampurna ya nama swaha.

Bapak Ibu umat se-Dharma yang kami hormati, sebagaimana diketahui, pada hari Senin tanggal 29 Oktober 2012, semeton kita di Desa Balinuraga dan Desa Sidoreno, Kec. Way Panji Lampung Selatan, mengalami musibah/kedukaan, puluhan jiwa baik laki-laki maupun perempuan melayang, puluhan lainnya belum diketahui nasibnya, sementara ratusan orang luka-luka, ratusan rumah penduduk di Balinuraga dan Sidoreno dibakar, belum terhitung harta benda lainnya. Saat ini tidak kurang dari 2.000 jiwa warga Bali dievakuasi ke Sekolah Polisi Nasional (SPN) di Kemiling, Tanjung Karang. Dari berbagai sumber, termasuk dari PMI (Pak JK/Detik) diperoleh info sebagai berikut :

Kejadian bermula/dipicu dari adanya kecelakaan lalu lintas (antara sepeda dikendarai warga Bali/laki-laki dengan motor yang dikendarai oleh warga Lampung/perempuan), pada hari Minggu tgl. 28 Oktober 2012, isu yang berkembang seolah olah warga Bali tersebut melakukan pelecahan seksual, akibatnya ratusan warga Lampung dengan mengendarai sepeda motor menyerang Desa Balinuraga, melakukan pembakaran rumah dan pos kamling. Warga Balinuraga melakukan pertahanan dan perlawanan yang menyebabkan 3 orang warga Lampung meninggal, situasi Kec. Way Panji mulai mencekam dan aparat kepolisian mulai berdatangan.

Hari Senin pagi, tgl. 29 Oktober 2012, Kapolda dan Kapolres Lampung berada di Desa Balinuraga dengan memobilisasi sekitar 2.000 pasukan TNI Polri untuk melakukan blokade karena adanya info ribuan warga Lampung bergerak menuju Desa Balinuraga untuk melakukan pembalasan. Siang harinya, konsentrasi massa warga Lampung mencapai puluhan ribu, masing-masing membawa senjata tajam dengan tujuan Desa Balinuraga. Menjelang sore, blokade aparat keamanan berhasil dijebol oleh massa warga Lampung dan mulailah terjadinya penghancuran Desa Balinuraga dan Desa Sidoreno dengan cara melakukan pembakaran rumah-rumah penduduk dan pembantaian warga Bali yang tidak berhasil meloloskan diri. Pembantaian dilakukan secara kejam bahkan otopsi sampai saat ini belum selesai dilaksanakan karena ada bagian tubuh warga belum ditemukan. Selanjutnya PHDI Lampung meminta bantuan TNI Polri untuk melakukan evakuasi terhadap warga Bali (berita dimuat di harian Kompas/Warta Kota/TV/Media on line). Pertemuan musyawarah tokoh warga Lampung dan tokoh warga Bali tgl. 31 Oktober 2012 yang difasilitasi oleh Kapolda Pemerintah Daerah, belum berhasil, bahkan tokoh warga Lampung meminta warga Bali tidak kembali ke Desa Balinuraga dan Desa Sidoreno (status quo), lalu kemana mereka (warga Bali) harus pergi ?

Bapak/Ibu umat se-Dharma yang kami hormati, sementara dipengungsian sudah banyak relawan baik personal/maupun institusi yang membantu memenuhi kebutuhan ribuan pengungsi warga Balinuraga, Para Romo ( Kristen + ), bahu membahu di Dapur Umum, PHDI Lampurng berseru meminta bantuan Dana, Pakaian Layak Pakai ataupun makanan untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang menderita. Marilah bersihkan hati, satukan tangan tidak perlu mengirim sepasukan "Ciyung Wanaya", tidak perlu dendam, tidak perlu sakit hati, tapi bergeraklah sisihkan sebagian rezeki kita untuk membantu Saudara-saudara kita tersebut. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa, memberikan Waranugra kepada kita semua.

Masalah siapa yang benar dan salah, masalah kriminal kita percayakan kepada Aparat yang berwenang, tetapi urusan kemanusian membutuhkan empati kita semua, mari buktikan semangat "TAT TWAM ASI", mari tunjukkan rasa persaudaraan kita "VASUDEVAM KUTUM BAKHAM", mari kita wujudkan kebenaran SATYAM EVA JAYATE, kalau Para Romo saja bergerak tidak elok rasanya kalau kita apatis dan berdiam diri. Salam Damai.

Salurkan partisipasi Bapak/Ibu Umat sedharma ke POSKO PEDULI WAY PANJI
Pura Satya Loka Archana, Komplek RUMDIS AL, Ciangsana, Gunung Putri Bogor,
Bantuan berupa dana dapat disampaikan melalui Rek BCA No. 502-0077711 atau Rek Mandiri No.102-000-110-1820 atas nama Nengah Sujana, SH.
Kami memberikan garansi bahwa setiap bantuan yang Bapak/Ibu sampaikan, akan disampaikan kepada yang berhak dengan disertai laporan/bukti tertulis.

Om Santi Santi Santi Om,
POSKO PEDULI WAY PANJI

Kamis, 01 November 2012

Bahasa Daerah Terancam Punah Salah Kita Juga

 
Suatu kali saat pulang kampung di Nganjuk, Jawa Timur saya terperangah dengan siaran radio lokal. Bukan soal isinya yang menurut saya biasa saja, tapi penggunaan bahasanya yang sangat mirip dengan radio lokal di Jakarta, tempat saya tinggal sehari-hari. Sebutan gue, elu, nyokap, bokap, jadi idiom yang disebut terus menerus saat siaran oleh sang penyiar.
Jujur saya kaget. Kalau begini, apa bedanya radio daerah dengan radio di Jakarta? Mulai dari lagu, gaya bahasa penyiar hingga cara berguraunya pun mirip dengan gaya gaul anak Jakarta. Saya yang pulang kampung berniat mendapat sesuatu yang khas daerah jadi tak merasakan keunikan tersebut. Apa yang saya dengar sama persis, bahkan kadang cenderung berlebihan jika dibandingkan dengan gaya siaran radio di Jakarta. Telinga saya jadi menyerap sesuatu yang aneh, mendengar gaya bahasa slang Betawi dengan dialek medok Jawa. Campur aduk lah kedengarannya.
Usut punya usut, ternyata salah satu penyebabnya adalah adanya jaringan radio ibukota yang beroperasi hingga pelosok nusantara. Dari sisi bisnis memang keberadaan jaringan radio (radio network) merupakan sesuatu yang menggiurkan. Mereka meluaskan jangkauan mulai dari ibukota hingga ke pelosok. Ini juga sekaligus ‘mengimpor’ banyak hal yang sedang menjadi tren di ibukota, mulai dari teknologi, modal hingga itu tadi, gaya berbahasa.
Mungkin para penyiar radio daerah merasa bangga bisa bergaya bahasa persis seperti rekan mereka dalam satu jaringan radio. Tapi mereka agaknya lupa, apa yang mereka lakukan sesungguhnya justru ‘membunuh’ keragaman bahasa daerah tempat mereka berada sendiri. Karena para penyiar ini justru bangga dengan bahasa Indonesia berdialek Betawi yang mereka gunakan. Mereka pelan-pelan secara tak langsung tak lagi menggunakan bahasa daerah tempat mereka tinggal.
Dampaknya? Selain makin menjauhkan para penyiar tadi dengan bahasa daerahnya, yang paling parah adalah terpaan siaran radio itu yang membuat masyarakat perlahan meninggalkan bahasa daerahnya sendiri. Ini tak bisa dibiarkan! Harusnya keberadaan radio daerah dipantau sedemikian rupa untuk memelihara keberagaman budaya lokal. Karena keberagaman inilah yang membentuk satu Indonesia. Radio berjaringan tak salah, yang salah jika menyamakan semua gaya bahasanya menjadi hanya satu, gaya bahasa kota, sehingga identitas lokal pun menghilang.
Saya jadi ingat dengan artikel di situs VOA berjudul “Jarang Digunakan, Ratusan Bahasa Daerah di Indonesia Terancam Punah” yang berisi kekhawatiran akan punahnya bahasa daerah di Indonesia lantaran jarang digunakan. Kepala Bidang Peningkatan dan Pengendalian Bahasa Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, Sugiyono dalam tulisan itu memperkirakan di penghujung abad 21, jumlah bahasa daerah akan menyusut, yang semula 746 bahasa daerah, menjadi hanya 75 bahasa daerah saja. Wah! Kalau ini benar, maka kondisinya sudah SOS.
Seperti dilansir VOA, Sugiyono mengatakan, salah satu penyebab makin tidak populernya bahasa daerah adalah karena alasan urbanisasi dan perkawinan antar etnis. Mereka yang menikah dengan etnis lain dan pindah ke kota, punya kecenderungan bakal meninggalkan bahasa daerahnya dan lebih memilih bahasa Indonesia sebagai alat komunikasinya.
Saya sendiri tidak anti perkawinan antar etnis. Justru perkawinan antar etnis menurut saya perlu untuk meningkatkan keberagaman dan pemahaman antar etnis yang di beberapa daerah masih rendah. Namun harusnya perkawinan antar etnis tidak mematikan keberadaan bahasa daerah itu sendiri. Harusnya kedua pihak yang menikah justru menyuburkan pemakaian bahasa daerah pada anak-anak mereka.
Coba bayangkan, alangkah indahnya jika sebuah keluarga yang merupakan hasil perkawinan antar etnis Sunda dan Makasar mengajarkan kedua bahasa daerah pada anak-anaknya. Anak-anak akan punya ketrampilan berbahasa yang lebih kaya. Tidak hanya satu bahasa Indonesia, namun juga bahasa ayah dan ibunya.
Lalu bagaimana agar bahasa daerah tetap lestari dan digunakan di negeri ini? Peran seorang ibu sangat jelas dalam mengajarkan ketrampilan berbahasa. Tak usah mencari contoh jauh-jauh, saya sendiri bisa dan mengerti bahasa Jawa karena ibu saya kerap mengajak bercakap dalam bahasa Jawa sejak kecil. Dan itu hanya dilakukan dalam lingkup rumah saja. Jika bertemu dengan orang dari etnis lain, kita selalu menggunakan bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia sebagai jembatan komunikasi.
Setelah besar kemampuan berbahasa Jawa saya tidak lantas hilang meski bapak-ibu saya berurbanisasi dari pelosok Jawa Timur ke ibukota. Dan ini adalah hasil proses panjang yang dilakukan ibu saya di rumah. Cara ini bisa dicontoh siapapun, dengan satu atau dua etnis dalam satu rumah.
Kenapa kita tak mulai dari dari sekarang? Jika bahasa daerah kita yang beragam punah, yang rugi tentu kita sendiri. Bangsa yang besar dari keberagaman suku, budaya dan bahasa ini akan hilang keunikannya jika bahasa daerah menghilang dari bumi Indonesia. Setuju bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan, tapi jangan pernah lupakan akar budaya kita masing-masing. Banggalah dengan bahasa daerah kita masing-masing, karena dengan itu ke-Indonesiaan kita makin tampak.

PENGADILAN RAKYAT KECIL: mari bersama membela rakyat kecil

PENGADILAN RAKYAT KECIL: mari bersama membela rakyat kecil: MARI BERSAMA MEMBELA RAKYAT KECIL Saya sama sekali tak mengerti akan hukum namun saya yakin dengan keterlibatan anda semua yang mengert...