GAMBAR PRIBADIKU

GAMBAR PRIBADIKU
email : waransyah66@gmail.com

Senin, 29 Oktober 2012

disimpan untuk dipelajari

Manusia Setengah Kucing http://wanasedaju.blogspot.com/0Share

Saat Anggota DPR ‘Dihajar’ di Indonesia Lawyer Club

HL | 11 September 2012 | 22:07 Dibaca: 2316   Komentar: 17   3 menarik
INDONESIA Lawyer Club yang memiliki durasi ala pertandingan sepakbola, mungkin menjadi tayangan favorit bagi kita. Meski tidak setiap minggu menyaksikan, tapi astik juga lihat orang-orang berkapabel ini ‘gontok-gontokan’. Tapi Ruhut Sitompul dan Faizal Akbar (Akbar Faizal) adalah beberapa undangan yang kerap diundang dan mau menghadiri. Dari sini saja kita bisa memberi mereka apresiasi besar. Maksudnya, anggota DPR ‘mana lagi’ yang mau hadir ke tayangan yang ‘bombastis’ itu.
Kenapa bombastis, karena di situlah beberapa isu dipreteli. Beberapa kalangan yang mewakili jenjang sosial tertentu diundang dan diminta memberi komentar terhadap suatu isu aktual dan faktual yang disodorkan. Di sinilah perdebatan itu berlangsung. Ada kesetujuan, bantahan, ngeles, dan segalanya. Tapi karena mereka semua tentulah hanya manusia yang punya karakter (singkirkan status pendidikan dan jabatan), maka kita enggak boleh ngasih ekspektasi pada mereka di bidang ‘etika’ dan standar pribadi. Sebab ada pula undangan yang malah terlihat ngotot atau ‘tidak terima’. Biasanya pihak dari perwakilan DPR lah yang melakukan hal demikian. Apalagi jika mereka dalam keadaan ‘terpojok’.
Di satu sisi mereka harus membela atas nama lembaga tempat dia bekerja. Namun coba telisik lebih spesifik, yeah, kebanyakan mereka berbicara sebagai fraksi. Mewakili fraksi. Ah, jatohnya ke politik-politik lagi. :p
video.tvonenws.com
Seperti malam ini pada 11 September 2012. Karni Ilyas membuka dengan (kembali) panas isu yang mungkin sudah sempat dibahas. Dengan judul jor-joran: DPR: Kunker atau Plesiran, tayangan ini membuat saya betah duduk di depan TV sampai berjam-jam lamanya.
Tayangan dibuka dengan pendapat mahasiswa Indonesia yang berkuliah di luar negeri saat ‘menemani’ dan mengamati anggota DPR yang kunker atau studi banding. Sebagai mahasiswa, suara mereka bisa jadi suara saya. Jadi jika saya mengeluarkan reaksi gemas dan picingan mata terhadap siapa yang mereka singgung, maka kita anggap ini sebagai hal yang wajar.
Mahasiswa, PPI, LSM, atau kelompok di luar pemerintahan itu, terlihat mengeluarkan suara ‘minor’ sebagai tanda kritik terhadap kinerja kunker beberapa anggota DPR yang dianggap melenceng. Dari pengakuan tersebut, masyarakat awam mana yang enggak kaget saat konon ada anggota DPR yang sampai pegang buah dada orang lain terus bilang ‘ini asli apa palsu’?
Saya merasa yakin ini pengakuan yang benar. Maksudnya, nasionalisme anak-anak yang kuliah di luar negeri enggak luntur. Seharusnya para pejabat kita yang mendengar hal itu bersyukurlah ya. Jangan terkesan menyalahkan mahasiswa dan terkesan mendeskreditkan. Seperti kata Ruhut: “ada banyak sekolah di sini. Kenapa Anda sekolah di luar negeri?” Atau kata Faizal Akbar; “Saya tidak merasa nyaman dengan kalimat, mohon maaf, ini asli apa palsu saat memegang buah dada. Maaf, saya penulis cerpen, dan saya merasa kata-kata itu tidak pantas!”
Yeah, kira-kira seperti itu nadanya. Saya enggak merekam program itu tentu. Tapi setahu saya, penulis cerpen biasanya paham kalau apa yang diakui mahasiswa itu adalah kalimat langsung. Itu adalah PENGAKUAN, KONTEKSNYA SEDANG MEMBERIKAN OPINI. Saya pun penulis cerpen, meski amatiran. Dan saya juga pembaca cerpen dan sudah mengenal lumayan banyak tipikal penulis Indonesia, mulai dari yang terkenal sampai penulis sastra koran.
Ada satu cerpen saya yang dimuat di harian lokal (pikiran rakyat). Dan dalam cerpen itu saya menyertakan kata anjing sebagai umpatan. Dan itu tidak diedit pihak editor karena merupakan bentuk ujaran. Tipografinya misalnya begini:
“Anjing!” Seru preman itu kepada anak yang akan diperkosanya.
Atau diksi/ pilihan kata yang diakui ada di komunitas tertentu, yang dimasukkan dalam cerpen atau novel. Dan itu dihalalkan karena bentuknya berupa ujaran. Misalnya dalam kebanyakan karya Djenar Maesa Ayu. Bahkan, kata-kata yang diakui berkesan’cabul’ dipakai dalam puisi, seperti puisi karya Binhad Nurrahmat.
Nah, Pak Faizal Akbar ini mungkin penulis cerpen moral atau relijius. Saya belum pernah membaca karya beliau sih. Tapi kalau konteksnya KEPATUTAN DALAM BERBICARA, mungkin frasa ‘MEREMAS SUSU’ itu hal yang kurang nyaman di telinga. Tapi intinya dong, Pak. Itu adalah pengakuan langsung, hasil reaksi langsung ketika sang narasumber ditanya Bung Karni. Artinya muncul begitu saja.
Dalam kajian Pragmatik Bahasa Indonesia, hal itu juga dibahas. Layaknya sebuah matematika, cabang ilmu linguistik ini membahas bagaimana tindak tutur terjadi. Ketika sebuah makna kalimat atau frasa, amat berhubungan dengan KONTEKS.
Jadi alangkah bijak yah, kalau kita melihat dari ‘pengakuan’ itu sendiri. Bukan dari cara penyampaian yang mungkin terkesan MEMBABIBUTA DAN MENYUDUTKAN ORANG-ORANG DI SENAYAN. Apalagi anggota DPR seperti Pak Akbar ini bahkan memakai kata ‘dihajar’ untuk mengganti kata ‘diberikan reaksi keras oleh masyarakat’. Nah, sama aja kan, Pak? Dihajar kan istilah yang memiliki konotasi buruk, ketika orang yang mendapatkan hajaran berada di posisi yang terugikan. Jadi kalau anggota DPR dikasih respons dan kritik dari masyarakatnya, itu berarti Anda-Anda yang duduk nyaman itu ngerasa kehajar, dong?
Sebenarnya masih banyak hal yang bisa saya kritisi. Tapi kritikan itu tentu muncul dari teman pembaca di sini. Tapi selalu ‘ada-ada saja’ saat wakil kita ini  ‘beralibi ria’. Kita sebagai masyarakat awam juga bisa berempatilah. Enggak bodoh toh kayak banteng yang reaktif sama warna merah.Kita juga bisa mosisin diri sebagai anggota DPR. Bahwa yang melakukan ‘amoralitas’ hanya beberapa. Cuma yah, dalam memberikan ‘pembelaan’ wong harus juga pakai konsep adem,menerima kritik, dan tidak terlalu menuding balik si pengkritik. Mahasiswa,LSM, itu wakil dari masyarakat lho.Maksud saya, suara saya lebih terwakili dari mahasiswa luar neger atau LSM ketimbang dari DPR.
Bukankah untuk menjadi lebih baik, kita memang memerlukan penilaian,memerlukan kritik? Yah, semoga acara tersebut benar-benar memberikan kontribusi terhadap perubahan.Enggak cuma menunjukkan ‘adu mulut’ yang kemudian hanya akan kembali menjadi wacana. Kayak eceng gondok di ciliwung dong kalo kayak gitu terus mah.Yang jelas, pihak PPI juga memang terima dikasih kritik. Bahwa untuk menyampaikan kritik harus beserta kesantunan. Tapi yang santun-santun saja tidak ditoleh,yang kurang santun dan itu enggak disengaja sebagai ujaran konteks,malah diberangi.Malah dianggap MENGHAJAR. Hahahah… (ngikik).. Hmmm =,=
 

Mcdamas

Bermanfaat

Ibnu Muham...

Inspiratif

Dwi Okta N...

Aktual

Sam Leinad

Aktual

Febrialdi

Inspiratif

Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Tidak ada komentar:

Posting Komentar